English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

FLOATING VILLAGE OF LAKE TITICACA

Imagine, waking up and then see the world float past our window, about what is happening disaster - flood or storm nightmare're crashing our homes? Or is this just anordinary day in the bed of grass floating on the lake Titicaca.

THE TOWER OF PISA

Leaning Tower of Pisa (in Italian: Torre pendente di Pisa) or commonly known as the Tower of Pisa (La Torre di Pisa) is a bell tower of a cathedral in Pisa, Italy.

Justin Bieber

Justin Drew Bieber , born March 1, 1994. is a Canadian pop singer, songwriter and actor. Bieber was discovered in 2008 by Scooter Braun, who happened to come across Bieber's videos on YouTube and later became his manager.

Paramore

Paramore is an American rock band from Franklin, Tennessee, formed in 2004. The band consists of lead vocalist Hayley Williams, bassist Jeremy Davis, and guitarist Taylor York.

A Rocket To The Moon

A Rocket to the Moon is an American rock band. The band was founded during 2006 in Braintree, Massachusetts by Nick Santino, lead vocalist and rhythm guitarist.

javascript:void(0) Showing posts with label History. Show all posts
Showing posts with label History. Show all posts

Monday, September 12, 2011

The Tower of Pisa

Leaning Tower of Pisa (in Italian: Torre pendente di Pisa) or commonly known as the Tower of Pisa (La Torre di Pisa) is a bell tower of a cathedral in Pisa, Italy. The tower islocated behind the cathedral and is the third structure in the Campo dei Miracoli (miracle)of Pisa.



Although the original plan is built vertically, the tower began leaning to the southeast soon after construction in the year 1173, due to an imperfect foundation.


Height of the tower is 55.86 miles from the ground on the lowest side and 56.70 m on the highest side. The width of the building's base is 4.09 m wide and height is 2.48 m.Weight of the tower is estimated to 14.500 tons and has 294 steps.


Construction of the Tower of Pisa was built in three stages, which takes about 200 years. Construction of white marble on the first floor began on August 9, 1173, during military success and prosperity of Italy. The first floor is surrounded by pillars and although some oblique position, but still hold it for centuries.


There is controversy surrounding the identity of the architect who built the Leaning Tower of Pisa. Over the years, the design is believed to be made by Guglielmo and Bonanno Pisano, a local artist renowned in the 12th century, famous for its bronze works, especially his work on the Duomo of Pisa.


Bonanno Pisano left Pisa in 1185 and moved to Monreale, Sicily, but later returned and died in the land of his birth. His tomb was found at the base of the tower in 1820.


The tower was first slash after the third floor was built in 1178, due to amblasnya foundations as deep as three meters, due to ground movement. This means that the design of the tower has been disabled since the beginning.


Construction was suspended for nearly a century old, because the citizens of Pisa almost engaged war with Genoa, Lucca and Florence. During the period of 'rest', the structure of the soil beneath it has been re-stabilized. And in 1198, temporarily installed at the building that was still unfinished.


In 1272, construction was resumed by Giovanni di Simone, architect of the Camposanto. The fourth floor was built to compensate for the slope of this tower. The rebuilding was stopped in 1284, when Pisa conquered by the Genoese in the Battle of Meloria.

Construction of the bell tower was not completed until 1372 stalled. After that, Tommaso Andrea Pisano in the successful completion of Gothic elements of the tower, with a touch of Roman style. There are seven bells in the tower, which each represent a note on the tone. The largest bell installed in 1655.

Friday, September 9, 2011

Misteri Atlantis

Mitos tentang Peradaban Atlantis pertama kali dicetuskan oleh seorang filsafat Yunani kuno bernama Plato (427 – 347 SM) dalam buku Critias dan Timaeus
Dalam buku Timaeus Plato menceritakan bahwa dihadapan selat Mainstay Haigelisi, ada sebuah pulau yang sangat besar, dari sana kalian dapat pergi ke pulau lainnya,
di depan pulau-pulau itu adalah seluruhnya daratan yang dikelilingi laut samudera, itu adalah kerajaan Atlantis. Ketika itu Atlantis baru akan melancarkan perang besar dengan Athena, namun di luar dugaan Atlantis tiba-tiba mengalami gempa bumi dan banjir, tidak sampai sehari semalam, tenggelam sama sekali di dasar laut, negara besar yang melampaui peradaban tinggi, lenyap dalam semalam.

Dibagian lain pada buku Critias adalah adik sepupu dari Critias mengisahkan tentang Atlantis. Critias adalah murid dari ahli filsafat Socrates, tiga kali ia menekankan keberadaan Atlantis dalam dialog. Kisahnya berasal dari cerita lisan Joepe yaitu moyang lelaki Critias, sedangkan Joepe juga mendengarnya dari seorang penyair Yunani bernama Solon (639-559 SM).
Solon adalah yang paling bijaksana di antara 7 mahabijak Yunani kuno, suatu kali ketika Solon berkeliling Mesir, dari tempat pemujaan makam leluhur mengetahui legenda Atlantis.


Garis besar kisah pada buku tersebut Ada sebuah daratan raksasa di atas Samudera Atlantik arah barat Laut Tengah yang sangat jauh, yang bangga dengan peradabannya yang menakjubkan. Ia menghasilkan emas dan perak yang tak terhitung banyaknya. Istana dikelilingi oleh tembok emas dan dipagari oleh dinding perak. Dinding tembok dalam istana bertahtakan emas, cemerlang dan megah. Di sana, tingkat perkembangan
peradabannya memukau orang. Memiliki pelabuhan dan kapal dengan perlengkapan yang sempurna, juga ada benda yang bisa membawa orang terbang. Kekuasaannya tidak hanya terbatas di Eropa, bahkan jauh sampai daratan Afrika. Setelah dilanda gempa dahsyat,
tenggelamlah ia ke dasar laut beserta peradabannya, juga hilang dalam ingatan orang-orang.



Jika dibaca dari sepenggal kisah diatas maka kita akan berpikiran bahwa Atlantis merupakan sebuah peradaban yang sangat memukau. Dengan teknologi dan ilmu pengetahuan pada waktu itu sudah menjadikannya sebuah bangsa yang besar dan mempunyai kehidupan yang makmur.
Tapi kemudian saya mempunyai pertanyaan, apakah itu hanya sebuah cerita untuk pengantar tidur pada jamannya Plato atau memang Plato mempunyai bukti2 kuat dan otentik bahwa atlantis itu benar-benar pernah ada dalam kehidupan di bumi ini?
Terdapat beberapa catatan tentang usaha para ilmuwan dan orang-orang dalam pencarian untuk membuktikan bahwa Atlantis itu benar-benar pernah ada.

Menurut perhitungan versi Plato waktu tenggelamnya kerajaan Atlantis, kurang lebih 11.150 tahun yang silam. Plato pernah beberapa kali mengatakan, keadaan kerajaan Atlantis diceritakan turun-temurun. Sama sekali bukan rekaannya sendiri. Plato bahkan pergi ke Mesir minta petunjuk biksu dan rahib terkenal setempat waktu itu. Guru Plato yaitu Socrates ketika membicarakan tentang kerajaan Atlantis juga menekankan, karena hal itu adalah nyata, nilainya jauh lebih kuat dibanding kisah yang direkayasa.

Jika semua yang diutarakan Plato memang benar-benar nyata, maka sejak 12.000 tahun silam, manusia sudah menciptakan peradaban. Namun di manakah kerajaan Atlantis itu? Sejak ribuan tahun silam orang-orang menaruh minat yang sangat besar terhadap hal ini. Hingga abad ke-20 sejak tahun 1960-an, laut Bermuda yang terletak di bagian barat Samudera Atlantik, di kepulauan Bahama, dan laut di sekitar kepulauan Florida pernah berturut-turut diketemukan keajaiban yang menggemparkan dunia.

Suatu hari di tahun 1968, kepulauan Bimini di sekitar Samudera Atlantik di gugusan Pulau Bahama, laut tenang dan bening bagaikan kaca yang terang, tembus pandang hingga ke dasar laut. Beberapa penyelam dalam perjalanan kembali ke kepulauan Bimini, tiba-tiba ada yang menjerit kaget. Di dasar laut ada sebuah jalan besar! Beberapa penyelam secara bersamaan terjun ke bawah, ternyata memang ada sebuah jalan besar membentang tersusun dari batu raksasa. Itu adalah sebuah jalan besar yang dibangun dengan menggunakan batu persegi panjang dan poligon, besar kecilnya batu dan ketebalan tidak sama, namun penyusunannya sangat rapi, konturnya cemerlang. Apakah ini merupakan jalan posnya kerajaan Atlantis?

Awal tahun ‘70-an disekitar kepulauan Yasuel Samudera Atlantik, sekelompok peneliti telah mengambil inti karang dengan mengebor pada kedalaman 800 meter di dasar laut, atas ungkapan ilmiah, tempat itu memang benar-benar sebuah daratan pada 12.000 tahun silam. Kesimpulan yang ditarik atas dasar teknologi ilmu pengetahuan, begitu mirip seperti yang dilukiskan Plato! Namun, apakah di sini tempat tenggelamnya kerajaan Atlantis?

Tahun 1974, sebuah kapal peninjau laut Uni Soviet telah membuat 8 lembar foto yang jika disarikan membentuk sebuah bangunan kuno mahakarya manusia. Apakah ini dibangun oleh orang Atlantis?

Tahun 1979, ilmuwan Amerika dan Perancis dengan peranti instrumen yang sangat canggih menemukan piramida di dasar laut “segitiga maut” laut Bermuda.
Panjang piramida kurang lebih 300 meter, tinggi kurang lebih 200 meter, puncak piramida dengan permukaan samudera hanya berjarak 100 meter, lebih besar dibanding piramida Mesir. Bagian bawah piramida terdapat dua lubang raksasa, air laut dengan kecepatan yang menakjubkan mengalir di dasar lubang.
Piramida besar ini, apakah dibangun oleh orang-orang Atlantis? Pasukan kerajaan Atlan pernah menaklukkan Mesir, apakah orang Atlantis membawa peradaban piramida ke Mesir? Benua Amerika juga terdapat piramida, apakah berasal dari Mesir atau berasal dari kerajaan Atlantis?

Tahun 1985, dua kelasi Norwegia menemukan sebuah kota kuno di bawah areal laut “segitiga maut”. Pada foto yang dibuat oleh mereka berdua, ada dataran, jalan
besar vertikal dan horizontal serta lorong, rumah beratap kubah, gelanggang aduan (binatang), kuil, bantaran sungai dll. Mereka berdua mengatakan mutlak percaya terhadap apa yang mereka temukan itu adalah Benua Atlantis seperti yang dilukiskan oleh Plato. Benarkah itu?





Yang lebih menghebohkan lagi adalah penelitian yang dilakukan oleh Aryso Santos, seorang ilmuwan asal Brazil. Santos menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang ini disebut Indonesia.
Dalam penelitiannya selama 30 tahun yang ditulis dalam sebuah buku “Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization” dia menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.

Santos menetapkan bahwa pada masa lalu Atlantis itu merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.



Sedangkan menurut Plato Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene). Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru/Sumeru/Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Somasir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.

Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.

Dalam usaha mengemukakan pendapat mendasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk/posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, “Amicus Plato, sed magis amica veritas.” Artinya,”Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran.”
Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat. Yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia. Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia. Di antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.

Ini ada lagi yang lebih unik dari Santos dan kawan-kawan tentang usaha untuk menguak misteri Atlantis. Sarjana Barat secara kebetulan menemukan seseorang yang mampu mengingat kembali dirinya sebagai orang Atlantis di kehidupan sebelumnya “Inggrid Benette”. Beberapa penggal kehidupan dan kondisi sosial dalam ingatannya masih membekas, sebagai bahan masukan agar bisa merasakan secara gamblang peradaban tinggi Atlantis. Dan yang terpenting adalah memberikan kita petunjuk tentang mengapa Atlantis musnah. Di bawah ini adalah ingatan Inggrid Bennette.

Kehidupan yang Dipenuhi Kecerdasan
Dalam kehidupan sebelumnya di Atlantis, saya adalah seorang yang berpengetahuan luas, dipromosikan sebagai kepala energi wanita “Pelindung Kristal” (setara dengan seorang kepala pabrik pembangkit listrik sekarang). Pusat energi ini letaknya pada sebuah ruang luas yang bangunannya beratap lengkung. Lantainya dari pasir dan batu tembok, di tengah-tengah kamar sebuah kristal raksasa diletakkan di atas alas dasar hitam. Fungsinya adalah menyalurkan energi ke seluruh kota. Tugas saya melindungi kristal tersebut. Pekerjaan ini tak sama dengan sistem operasional pabrik sekarang, tapi dengan menjaga keteguhan dalam hati, memahami jiwa sendiri, merupakan bagian penting dalam pekerjaan, ini adalah sebuah instalasi yang dikendalikan dengan jiwa. Ada seorang lelaki yang cerdas dan pintar, ia adalah “pelindung” kami, pelindung lainnya wanita.

Rambut saya panjang berwarna emas, rambut digelung dengan benda rajutan emas, persis seperti zaman Yunani. Rambut disanggul tinggi, dengan gulungan bengkok jatuh bergerai di atas punggung. Setiap hari rambutku ditata oleh ahli penata rambut, ini adalah sebagian pekerjaan rutin. Filsafat yang diyakini orang Atlantis adalah bahwa “tubuh merupakan kuilnya jiwa”, oleh karena itu sangat memperhatikan kebersihan tubuh dan cara berbusana, ini merupakan hal yang utama dalam kehidupan. Saya mengenakan baju panjang tembus pandang, menggunakan daun pita emas yang diikat di pinggang belakang setelah disilang di depan dada. Lelaki berpakaian rok panjang juga rok pendek, sebagian orang memakai topi, sebagian tidak, semuanya dibuat dengan bahan putih bening yang sama. Seperti pakaian seragam, namun di masa itu, sama sekali tidak dibedakan, mengenakan ini hanya menunjukkan sebuah status, melambangkan kematangan jiwa raga kita. Ada juga yang mengenakan pakaian warna lain, namun dari bahan bening yang sama, mereka mengenakan pakaian yang berwarna karena bertujuan untuk pengobatan. Hubungannya sangat besar dengan ketidakseimbangan pusat energi tubuh, warna yang spesifik memiliki fungsi pengobatan.

Berkomunikasi dengan Hewan
Saya sering pergi mendengarkan nasihat lumba-lumba. Lumba-lumba hidup di sebuah tempat yang dibangun khusus untuk mereka. Sebuah area danau besar yang indah, mempunyai undakan raksasa yang menembus ke tengah danau. Pilar dua sisi undakan adalah tiang yang megah, sedangkan area danau dihubungkan dengan laut melalui terusan besar. Di siang hari lumba-lumba berenang di sana, bermain-main, setelah malam tiba kembali ke lautan luas. Lumba-lumba bebas berkeliaran, menandakan itu adalah tempat yang sangat istimewa. Lumba-lumba adalah sahabat karib dan penasihat kami. Mereka sangat pintar, dan merupakan sumber keseimbangan serta keharmonisan masyarakat kami. Hanya sedikit orang pergi mendengarkan bahasa intelek lumba-lumba. Saya sering berenang bersama mereka, mengelus mereka, bermain-main dengan mereka, serta mendengarkan nasihat mereka. Kami sering bertukar pikiran melalui telepati. Energi mereka membuat saya penuh vitalitas sekaligus memberiku kekuatan. Saya dapat berjalan-jalan sesuai keinginan hati, misalnya jika saya ingin pergi ke padang luas yang jauh jaraknya, saya memejamkan mata dan memusatkan pikiran pada tempat tersebut. Akan ada suatu suara “wuung” yang ringan, saya membuka mata, maka saya sudah berada di tempat itu.

Saya paling suka bersama dengan Unicorn (kuda terbang). Mereka sama seperti kuda makan rumput di padang belantara. Unicorn memiliki sebuah tanduk di atas kepalanya, sama seperti ikan lumba-lumba, kami kontak lewat hubungan telepati. Secara relatif, pikiran Unicorn sangat polos. Kami acap kali bertukar pikiran, misalnya, “Aku ingin berlari cepat”. Unicorn akan menjawab: “Baiklah”. Kita lari bersama, rambut kami berterbangan tertiup angin. Jiwa mereka begitu tenang, damai menimbulkan rasa hormat. Unicorn tidak pernah melukai siapa pun, apalagi mempunyai pikiran atau maksud jahat, ketika menemui tantangan sekalipun akan tetap demikian.
Saya sering kali merasa sedih pada orang zaman sekarang, sebab sama sekali tidak percaya dengan keberadaan hewan ini, ada seorang pembina jiwa mengatakan kepadaku: “Saat ketika kondisi dunia kembali pada keseimbangan dan keharmonisan, semua orang saling menerima, saling mencintai, saat itu Unicorn akan kembali”.

Lingkungan yang Indah Permai
Di timur laut Atlantis terdapat sebidang padang rumput yang sangat luas. Padang rumput ini menyebarkan aroma wangi yang lembut, dan saya suka duduk bermeditasi di sana. Aromanya begitu hangat. Kegunaan dari bunga segar sangat banyak, maka ditanam secara luas. Misalnya, bunga yang berwarna biru dan putih ditanam bersama, ini bukan saja sangat menggoda secara visual, sangat dibutuhkan buat efektivitas getaran. Padang rumput ini dirawat oleh orang yang mendapat latihan khusus dan berkualitas tinggi serta kaya pengetahuan. “Ahli ramuan” mulai merawat mereka sejak tunas, kemudian memetik dan mengekstrak sari pati kehidupannya.

Di lingkungan kerja di Atlantis, jarang ada yang berposisi rendah. Serendah apa pun pekerjaannya, tetap dipandang sebagai anggota penting di dalam masyarakat kami. Masyarakat terbiasa dengan menghormati dan memuji kemampuan orang lain. Yang menanam buah, sayur-mayur, dan penanam jenis kacang-kacangan juga hidup di timur laut. Sebagian besar adalah ahli botani, ahli gizi dan pakar makanan lainnya. Mereka bertanggung jawab menyediakan makanan bagi segenap peradaban kami.



Sebagian besar orang ditetapkan sebagai pekerja fisik, misalnya tukang kebun dan tukang bangunan. Hal itu akan membuat kondisi tubuh mereka tetap stabil. Sebagian kecil dari mereka mempunyai kecerdasan, pengaturan pekerjaan disesuaikan dengan tingkat perkembangan kecerdasan mereka. Orang Atlantis menganggap, bahwa pekerjaan fisik lebih bermanfaat, ini membuat emosi (perasaan) mereka mendapat keseimbangan, marah dan suasana hati saat depresi dapat diarahkan secara konstruktif, lagi pula tubuh manusia terlahir untuk pekerjaan fisik, hal tersebut telah dibuktikan. Namun, selalu ada pengecualian, misalnya lelaki yang kewanitaan atau sebaliknya, pada akhirnya, orang pintar akan membimbing orang-orang ini bekerja yang sesuai dengan kondisi mereka. Setiap orang akan menuju ke kecerdasan, berperan sebagai tokoh sendiri, semua ini merupakan hal yang paling mendasar.



Seluruh kehidupan Atlantis merupakan himpunan keharmonisan yang tak terikat secara universal bagi tumbuh-tumbuhan, mineral, hewan dan sayur-mayur. Setiap orang merupakan partikel bagiannya, setiap orang tahu, bahwa pengabdian mereka sangat dibutuhkan. Di Atlantis tidak ada sistem keuangan, hanya ada aktivitas perdagangan. Kami tidak pernah membawa dompet atau kunci dan sejenisnya. Jarang ada keserakahan atau kedengkian, yang ada hanya kebulatan tekad.

Teknologi yang Tinggi
Di Atlantis ada sarana terbang yang modelnya mirip “piring terbang” (UFO), mereka menggunakan medan magnet mengendalikan energi perputaran dan pendaratan, sarana hubungan jenis ini biasa digunakan untuk perjalanan jarak jauh. Perjalanan jarak pendek hanya menggunakan katrol yang dapat ditumpangi dua orang. Ia mempunyai sebuah mesin yang mirip seperti kapal hidrofoil, prinsip kerja sama dengan alat terbang, juga menggunakan medan energi magnet. Yang lainnya seperti makanan, komoditi rumah tangga atau barang-barang yang berukuran besar, diangkut dengan cara yang sama menggunakan alat angkut besar yang disebut “Subbers.”

Atlantis adalah sebuah peradaban yang sangat besar, kami berkomunikasi menggunakan kapal untuk menyiarkan berita ke berbagai daerah. Sebagian besar informasi diterima oleh “orang pintar” melalui respons batin, mereka memiliki kemampuan menerima dengan cara yang istimewa, ini mirip dengan stasiun satelit penerima, dan sangat akurat. Maka, pekerjaan mereka adalah duduk dan menerima informasi yang disalurkan dari tempat lain. Sebenarnya, dalam pekerjaan, cara saya mengoperasikan kristal besar, juga dikerjakan melalui hati.

Pengobatan yang Maju
Dalam peradaban ini, tidak ada penyakit yang parah. Metode pengobatan yang digunakan, semuanya menggunakan kristal, warna, musik, wewangian dan paduan ramuan, dengan mengembangkan efektivitas pengobatan secara keseluruhan.
Pusat pengobatan adalah sebuah tempat yang banyak kamarnya. Saat penderita masuk, sebuah warna akan dicatat di tembok. Lalu pasien diarahkan ke sebuah kamar khusus untuk menentukan pengobatan. Di kamar pertama, asisten yang terlatih baik dan berpengetahuan luas tentang pengobatan akan mendeteksi frekwensi getaran pada tubuh pasien. Informasi dialihkan ke kamar lainnya. Di kamar tersebut, sang pasien akan berbaring di atas granit yang datar, sedangkan asisten lainnya akan mengatur rancangan pengobatan yang sesuai untuk pasien.

Setelah itu, kamar akan dipenuhi musik terapi, kristal khusus akan diletakkan di pasien. Seluruh kamar penuh dengan wewangian yang lembut, terakhir akan tampak sebuah warna. Selanjutnya, pasien diminta merenung, agar energi pengobatan meresap ke dalam tubuh. Dengan demikian, semua indera yang ada akan sehat kembali, “warna” menyembuhkan indera penglihatan, “aroma tumbuh-tumbuhan” menyembuhkan indera penciuman, “musik yang merdu” menyembuhkan indera pendengaran, dan terakhir, “air murni” menyembuhkan indera perasa. Saat meditasi selesai, harus minum air dari tabung. Energinya sangat besar, bagaikan seberkas sinar, menyinari tubuh dari atas hingga ke bawah. Seluruh tubuh bagai telah terpenuhi. Teknik pengobatan selalu berkaitan dengan “medan magnet” dan “energi matahari” , sekaligus merupakan pengobatan secara fisik dan kejiwaan.

Pendidikan Anak yang Ketat
Saat bayi masih dalam kandungan, sudah diberikan suara, musik serta bimbingan kecerdasan pada zaman itu. Semasa dalam kandungan, “orang pintar” akan memberikan pengarahan kepada orang tua sang calon anak. Sejak sang bayi lahir, orang tua merawat dan mendidiknya di rumah, menyayangi dan mencintai anak mereka. Di siang hari, anak-anak akan dititipkan di tempat penitipan anak, mendengar musik di sana, melihat getaran warna dan cerita-cerita yang berhubungan dengan cara berpikiran positif dan kisah bertema filosofis.

Pusat pendidikan anak, terdapat di setiap tempat. Anak-anak dididik untuk menjadi makhluk hidup yang memiliki inteligensi sempurna. Belajar membuka pikiran, agar jasmani dan rohani mereka bisa bekerja sama. Di tahap perkembangan anak, orang pintar memegang peranan yang sangat besar, pendidik mempunyai posisi terhormat dalam masyarakat Atlantis, biasanya baru bisa diperoleh ketika usia mencapai 60-120 tahun, tergantung pertumbuhan inteligensi. Dan merupakan tugas yang didambakan setiap orang.

Di seluruh wilayah, setiap orang menerima pendidikan sejak usia 3 tahun. Mereka menerima pendidikan di dalam gedung bertingkat. Di depan gedung sekolah terdapat lambang pelangi, pelangi adalah lambang pusat bimbingan. Pelajaran utamanya adalah mendengar dan melihat. Sang murid santai berbaring atau duduk, sehingga ruas tulang belakang tidak mengalami tekanan. Metode lainnya adalah merenung, mata ditutup dengan perisai mata, dalam perisai mata ditayangkan berbagai macam warna. Pada kondisi merenung, metode visualisasi seperti ini sangat efektif. Bersamaan itu juga diberi pita kaset bawah sadar. Saat tubuh dan otak dalam keadaan rileks, pengetahuan mengalir masuk ke bagian memori otak besar. Ini merupakan salah satu metode belajar yang paling efektif, sebab ia telah menutup semua jalur informasi yang dapat mengalihkan perhatian. “Orang pintar” membimbing si murid, tergantung tingkat kemampuan menyerap sang anak, dan memudahkan melihat bakat tertentu yang dimilikinya. Dengan begini, setiap anak memiliki kesempatan yang sama mengembangkan potensinya.

Pemikiran maju yang positif dan frekwensi getaran merupakan kunci utama dalam masa belajar dan meningkatkan/mendorong wawasan sanubari terbuka. Semakin tinggi tingkat frekwensi getaran pada otak, maka frekwensi getaran pada jiwa semakin tinggi. Semakin positif kesadaran inheren, maka semakin mencerminkan kesadaran ekstrinsik maupun kesadaran terpendam. Ketika keduanya serasi, akan membuka wawasan dunia yang positif: Jika keduanya tidak serasi, maka orang akan hanyut pada keserakahan dan kekuasaan. Bagi orang Atlantis, mengendalikan daya pikir orang lain adalah cara hidup yang tak beradab, dan ini tidak dibenarkan.

Dalam buku sejarah kami, kami pernah merasa tidak aman dan tenang. Karakter leluhur kami yang tak beradab masih saja mempengaruhi masyarakat kami waktu itu. Misalnya, memilih binatang untuk percobaan. Namun, kaidah inteligensi dengan keras melarang mencampuri kehidupan orang lain. Meskipun kita tahu ada risikonya, namun kita tidak boleh memaksa atau menghukum orang lain, sebab setiap orang harus bertanggung jawab atas perkembangan sanubarinya sendiri. Pada masyarakat itu, rasa tidak aman adalah demi untuk mendapatkan keamanan. Filsafat seperti ini sangat baik, dan sangat dihormati orang-orang ketika itu, ia adalah pelindung kami.

Kiamat yang Melanda Atlantis
Saya tidak bersuami. Pada waktu itu, orang-orang tidak ada ikatan perkawinan. Jika Anda bermaksud mengikat seseorang, maka akan melaksanakan sebuah upacara pengikatan. Pengikatan tersebut sama sekali tidak ada efek hukum atau kekuatan yang mengikat, hanya berdasarkan pada perasaan hati. Kehidupan seks orang Atlantis sangat dinamis untuk mempertahankan kesehatan. Saya memutuskan hidup bersamanya berdasarkan kesan akan seks, inteligensi dan daya tarik. Di masa itu, seks merupakan sebuah bagian penting dalam kehidupan, seks sama pentingnya dengan makan atau tidur. Ini adalah bagian dari “keberadaan hidup secara keseluruhan”, lagi pula tubuh kami secara fisik tidak menampakkan usia kami, umumnya kami dapat hidup hingga berusia 200 tahun lamanya.

Ada juga yang orang berhubungan seks dengan hewan, atau dengan setengah manusia separuh hewan, misalnya, tubuh seekor kuda yang berkepala manusia. Di saat itu, orang Atlantis dapat mengadakan transplantasi kawin silang, demi keharmonisan manusia dan hewan pada alam, namun sebagian orang melupakan hal ini, titik tolak tujuan mereka adalah seks. Orang yang sadar mengetahui bahwa ini akan mengakibatkan ketidakseimbangan pada masyarakat kami, orang-orang sangat cemas dan takut terhadap hal ini, tetapi tidak ada tindakan preventif. Ini sangat besar hubungannya dengan keyakinan kami, manusia memiliki kebebasan untuk memilih, dan seseorang tidak boleh mengganggu pertumbuhan inteligensi orang lain. Orang yang memilih hewan sebagai lawan main, biasanya kehilangan keseimbangan pada jiwanya, dan dianggap tidak matang.

Teknologi Maju yang Lalim
Pada masa kehidupan saya, kami tahu Atlantis telah sampai di pengujung ajal. Di antara kami ada sebagian orang yang tahu akan hal ini, namun, adalah sebagian besar orang sengaja mengabaikannya, atau tidak tertarik terhadap hal ini. Unsur materiil telah kehilangan keseimbangan. Teknologi sangat maju. Misalnya, polusi udara dimurnikan, suhu udara disesuaikan. Majunya teknologi, hingga kami mulai mengubah komposisi udara dan air. Terakhir ini menyebabkan kehancuran Atlantis.
Empat unsur pokok yakni: angin, air, api, dan tanah adalah yang paling fundamental dari galaksi dan bumi kami ini, basis materiil yang paling stabil. Mencoba menyatukan atau mengubah unsur pokok ini telah melanggar hukum alam. Ilmuwan bekerja dan hidup di bagian barat Atlantis, mereka “mengalah” pada keserakahan, demi kekuasaan dan kehormatan pribadi bermaksud “mengendalikan” 4 unsur pokok. Kini alam tahu, hal ini telah mengakibatkan kehancuran total. Mereka mengira dirinya di atas orang lain, mereka berkhayal sebagai tokoh Tuhan, ingin mengendalikan unsur pokok dasar pada bintang tersebut.

Menjelang Hari Kiamat
Ramalan “kiamat” pernah beredar secara luas, namun hanya orang yang pintar dan yang mengikuti jalan spritual yang tahu penyebabnya. Akhir dari peradaban kami hanya disebabkan oleh segelintir manusia! Ramalan mengatakan: “Bumi akan naik, Daratan baru akan muncul, semua orang mulai berjuang lagi. Hanya segelintir orang bernasib mujur akan hidup, mereka akan menyebar ke segala penjuru di daratan baru, dan kisah Atlantis akan turun-temurun, kami akan kembali ke masa lalu”. Menarik pelajaran, Lumba-lumba pernah memberitahu kami hari “kiamat” akan tiba, kami tahu saat-saat tersebut semakin dekat, sebab telah dua pekan tidak bertemu lumba-lumba. Mereka memberitahu saat kami akan pergi ke sebuah tempat yang tenang, dan menjaga bola kristal, lumba-lumba memberitahu kami dapat pergi dengan aman ke barat.

Banyak orang meninggalkan Atlantis mencari daratan baru. Sebagian pergi sampai ke Mesir, ada juga menjelang “kiamat” meninggalkan Atlantis dengan kapal perahu, ke daratan baru yang tidak terdapat di peta. Daratan-daratan ini bukan merupakan bagian dari peradaban kami, oleh karena itu tidak dalam perlindungan kami. Banyak yang merasa kecewa dan meninggalkan kami, aktif mencari lingkungan yang maju dan aman. Oleh karenanya, Atlantis nyaris tidak ada pendatang. Namun, setelah perjalanan segelintir orang hingga ke daratan yang “aneh”, mereka kembali dengan selamat. Dan keadaan negerinya paling tidak telah memberi tahu kami pengetahuan tentang kehidupan di luar Atlantis.

Saya memilih tetap tinggal, memastikan kristal energi tidak mengalami kerusakan apa pun, hingga akhir. Kristal selalu menyuplai energi ke kota. Saat beberapa pekan terakhir, kristal ditutup oleh pelindung transparan yang dibuat dari bahan khusus. Mungkin suatu saat nanti, ia akan ditemukan, dan digunakan sekali lagi untuk maksud baik. Saat kristal ditemukan, ia akan membuktikan peradaban Atlantis, sekaligus menyingkap misteri lain yang tak terungkap selama beberapa abad.



Saya masih tetap ingat hari yang terpanjang, hari terakhir, detik terakhir, bumi kandas, gempa bumi, letusan gunung berapi, bencana kebakaran. Lempeng bumi saling bertabrakan dengan keras. Bumi sedang mengalami kehancuran, orang-orang di dalam atap lengkung bangunan kristal bersikap menyambut saat kedatangannya. Jiwa saya sangat tenang. Sebuah gedung berguncang keras. Saya ditarik seseorang ke atas tembok, kami saling berpelukan. Saya berharap bisa segera mati. Di langit asap tebal bergulung-gulung, saya melihat lahar bumi menyembur, kobaran api merah mewarnai langit. Ruang dalam rumah penuh dengan asap, kami sangat sesak. Lalu saya pingsan, selanjutnya, saya ingat roh saya terbang ke arah terang. Saya memandang ke bawah dan terlihat daratan sedang tenggelam. Air laut bergelora, menelan segalanya. Orang-orang lari ke segala penjuru, jika tidak ditelan air dahsyat pasti jatuh ke dalam kawah api. Saya mendengar dengan jelas suara jeritan. Bumi seperti sebuah cerek air raksasa yang mendidih, bagai seekor binatang buas yang kelaparan, menggigit dan menelan semua buruannya. Air laut telah menenggelamkan daratan.



Sumber Kehancuran
Lewat ingatan Inggrid Benette, diketahui tingkat perkembangan teknologi bangsa Atlantis, berbeda sekali dengan peradaban kita sekarang, bahkan pengalamannya akan materiil berbeda dengan ilmu pengetahuan modern, sebaliknya mirip dengan ilmu pengetahuan Tiongkok kuno, berkembang dengan cara yang lain. Peradaban seperti ini jauh melampaui peradaban sekarang. Mendengarnya saja seperti membaca novel fiktif. Bandingkan dengan masa kini, kemampuan jiwa bangsa Atlantis sangat diperhatikan, bahkan mempunyai kemampuan supernormal, mampu berkomunikasi dengan hewan, yang diperhatikan orang sekarang adalah pintar dan berbakat, dicekoki berbagai pengetahuan, namun mengabaikan kekuatan dalam.

Bangsa Atlantis mementingkan “inteligensi jiwa” dan “tubuh” untuk mengembangkan seluruh potensi terpendam pada tubuh manusia, hal ini membuat peradaban mereka bisa berkembang pesat dalam jangka panjang dan penyebab utama tidak menimbulkan gejala ketidakseimbangan. Mengenai punahnya peradaban Atlantis, layak direnungkan orang sekarang.

Plato menggambarkan kehancuran Atlantis dalam dialognya sebagai berikut:

“Hukum yang diterapkan Dewa Laut membuat rakyat Atlantis hidup bahagia, keadilan Dewa Laut mendapat penghormatan tinggi dari seluruh dunia, peraturan hukum diukir di sebuah tiang tembaga oleh raja-raja masa sebelumnya, tiang tembaga diletakkan di tengah di dalam pulau kuil Dewa Laut. Namun masyarakat Atlantis mulai bejat, mereka yang pernah memuja dewa palsu menjadi serakah, maunya hidup enak dan menolak kerja dengan hidup berfoya-foya dan serba mewah.”

Plato yang acap kali sedih terhadap sifat manusia mengatakan:

“Pikiran sekilas yang suci murni perlahan kehilangan warnanya, dan diselimuti oleh gelora nafsu iblis, maka orang-orang Atlantis yang layak menikmati keberuntungan besar itu mulai melakukan perbuatan tak senonoh, orang yang arif dapat melihat akhlak bangsa Atlantis yang makin hari makin merosot, kebajikan mereka yang alamiah perlahan-lahan hilang, tapi orang-orang awam yang buta itu malah dirasuki nafsu, tak dapat membedakan benar atau salah, masih tetap gembira, dikiranya semua atas karunia Tuhan.”

Hancurnya peradaban disebabkan oleh segelintir manusia, banyak yang tahu sebabnya, akan tetapi sebagian besar orang mengabaikannya, maka timbul kelongsoran besar, dalam akhlak dan tidak dapat tertolong. Maka, sejumlah kecil orang berbuat kesalahan tidak begitu menakutkan, yang menakutkan adalah ketika sebagian besar orang “mengabaikan kesalahan”, hingga “membiarkan perubahan” selanjutnya diam-diam “menyetujui kejahatan”, tidak dapat membedakan benar dan salah, kabar terhadap kesalahan mengakibatkan kesenjangan sifat manusia, moral masyarakat merosot dahsyat, mendorong peradaban ke jalan buntu.

Kita sebagai orang modern, dapatlah menjadikan sejarah sebagai cermin pelajaran, merenungi kembali ilmu yang kita kembangkan, yang mengenal kehidupan hanya berdasarkan pengenalan yang objektif terhadap dunia materi yang nyata, dan mengabaikan hakikat kehidupan dalam jiwa. Makna kehidupan sejati, berangsur menjadi bisnis memenuhi nafsu materiil, seperti ilmuwan Atlantis, segelintir orang tunduk pada keserakahan, tidak mempertahankan kebenaran, demi kekuasaan dan kemuliaan, mengembangkan teknologi yang salah, merusak lingkungan hidup. Apakah kita sedang berbuat kesalahan yang sama?

Source : Kumpulan Misteri Dunia

Thursday, September 8, 2011

Misteri Tol Cipularang

tol cipularang2
Nih cerita gue denger dari beberapa temen gue , dan gue juga sempet baca artikel ini di beberapa websita milik orang lain.
Jadi gini..,pada suatu hari ada sekeluarga pergi ke bandung.Keluarga tersebut terdiri dari ayah,ibu dan 1 orang anak yg masih berumur 8 thn an.Mereka berangkat dari jakarta sekitar jam 9 an,malam sabtu.Nah tiba2 anaknya kebelet kencing ampe aduh2an..
bapaknya bilang “udah nanti aja pas di pintu tol,dsini gelaap!”.
tp krn anaknya gk kuat,berhentilah mereka. lalu turunlah anak itu,sambil
ibunya bilang “jgn jauh2 y nak…” , iya.. saud si anak”
Tp kedua org tuanya merasa kok anak ini smakin jauh dan menjauh jalannya..
“eh jangan jauh2…,d depan mobil aja!” kata si ibu. lalu saud anaknya..iya mah..!”
lalu tak lama kemudian anak itu..balik k mobilnya dan duduk d belakang,sambil ayahnya bilang..
“kamu nih gimana sih..,kencing kok jauh2 amat..”
“malu pah..,diliat orang”
Setelah mereka sampai di bandung,orang tuanya melakukan aktifitas biasa selama 2 hari hingga hr minggu.kaya belanja,makan, mandi,tidur dll pokoknya liburan lah. tp dsela2 liburan mereka,orangtuanya rada2 melihat kejanggalan dr anaknya.Yg biasa anaknya ingin berenang d hotel,ini tidak.Dan anaknya terlihat murung,pucat dan berubah jd diem..tidak seperti biasanya.
“kamu sakit..??” tanya si ibu,tp anaknya dieeemm aja..
Akhirnya ayahnya memutuskan untuk pulang k jakarta , dr rencana sebelumnya hingga hari senen,akhirnya pulang hari minggu.Di dalam perjalanan pulang sekitar jam 10 an..kembali si anak kebelet kencing sampe aduh2an….
“aduh pah..kencing. .,papah kenciiing..” kata si anak
Akhirnya mereka berhentilah kembali.Anehnya mereka berhenti di KM yg sama seperti anaknya kencing sebelumnya,hanya saja di jalur yg berbeda.Tetapi kali ini si anak tidak balik2 k mobil..,sehingga membuat bingung orang tuanya.Setelah mereka menunggu 1 jam di pinggir tol,akhirnya mereka melapor k petugas melalui no.tlp pengaduan tol.Dalam percakapannya di tlp,petugas memberikan ciri2 pakaian si anak tersebut.. dan ternyata benar!. Akhirnya kedua orang tua tersebut langsung menuju pos tersebut,sambil ter heran2..
“kok bisa ada dsanaaa..,saud ayahnya..”
sesampainya di pos, ibunya langsung memeluk erat anaknya..dan memarahinya
“kamu kemana sih! kok tiba2 dsini..”
“loh..! mamah yang kemana aja..aku ditinggal,aku teriak2 mamah gk denger..!” sambil nangis..
And guess what..!,petugas polisi berkata..
“bu jangan dimarahi bu,anak ibu sudah di kantor kami selama 2 hari sejak hari jumat malam..”
seketika ibu dan ayahnya duduk lemas dan saling memandang..
Ternyata pada waktu anaknya kencing dalam perjalanan ke bandung ,dia hanya kencing di samping kiri mobil di balik pintu belakang,tetapi ibu dan ayahnya melihat dia berjalan di depan mobil dan menjauh..,setelah balik anak yg masih kencing ditinggal begitu saja..sampai anaknya teriak2 tp tidak terdengar..
“Pertanyaannya, lalu siapa yang ikut ke bandung ???”

Berikut Gue Share Juga Kejadian2 di Tol Cipularang Yg Gue Dapet Dari Website Lain ya :

Jembatan Cipada Tol Cipularang
747459161_830843f897Hati-hati aja gw titip pesen ma semua yang suka lewatin tol cipularang,,,
Dari pertengahan taun 2007, gw tuh bolak balik Bandung –Jakarta.
Awalnya seh biasa aja, tapi setelah keseringan lewat cipularang, gw ngalamin musibah:
” Tau kan jembatan CIPADA ama pengkolannya “, mobil gw tau2 belok ke kiri ke arah jakarta pas malem2.. itu boil gw langdung nabrak pembatas, istighfar gw…

Pas ke arah bandung’nya pun gw ngalamin hal yang sama, sblumnya ntu boil gw servis dan cek de dealer, namun ntu boil sehat dan gda masalah..
Eh pas sore2.. sikonnya ujan, ntu stir boil kali ini buang ke kanan. Kontan boil nabrak pembatas lagi. Well gw masukin bengkel lagi bwt ngecat, dsb.
Temen gw juga sempet cerita about jembatan CIPADA Cipularang emang ngeri, keluarganya bawa mobil 4 rombongan, lalu tiba2 terjadi tabrakan beruntun gara2, mobil depan ngerem mendadak. Secara si supir g sadar.
Jadi TTDJ yah bwt semuanya, klo mau lewat situ, kasih lampu sen/klakson dah biar aman.. tau aja ada penghuninya.. (atau ntu proyek jalan blum dapet tumbal)

Cipularang Km 68 – 72
Tadi jam 22.00 dape SMS dari temen yang pulang ke Bandung via Cipularang, kalo di KM 70-an (deket waduk Jatiluhur) ada KIA Visto silver B 8878 xx yang posisinya ada di depan dia, tiba-tiba mengerem mendadak dan terguling di jalur sebelah kanan.
Padahal siangnya baru rame-rame membahas imel horor dari milis TKCC yang
isinya sbb :
Mo nambahin Om , ati2 kalo mo jalan malem di Cipularang, terutama stlh waduk jatiluhur ke arah Bnd. Ada mobil misterius ngedim2. Pengalaman saya wkt itu mo blk ke Jkt lwt cipularang malem hari. Saat itu sy di jalur kanan, tiba2 dr blkg ada mbl ngedim2. Abis itu sy minggir ke kiri ngasih jalan, eh itu mbl ikutan ke kiri jg smbl tetep ngedim2.
Karena kesel sy bejek mbl sy, eh dia ikut2an kenceng jg. Tetep dia msh ngedim2 jg. Krn kesel di dim mulu, sy intip dr spion tengah itu mbl apa sih, eh sehabis ngintip spion tengah,sy trs liat jalan di depan, udah ada buntut truk tinggal beberapa ratus meter lg. Kaget sy rem abis. Utk gak ngguling. Abis ngerem sy intip spion tengah, mbl td udah nggak adalg. Sy salip truk ternyata kendaran yg ada cuman mbl sy ama truk td x(. Depan
gelap nggak ada mbl sama sekali huaaaa… serem abis. Abis tu mrinding abis sy. Cerita ke kakak yg lg kul dBnd, dia ternyata jg pernah ngalamin yg kyk gt x(..”Fenomena apakah yang terjadi..? perlu mengundang tim pemburu hantu dari Lativi-kah..? so, berhati-hatilah..
Salam.
——————————————————————————————
saya ingin berbagi cerita ini kejadian yang terjadi pada hari ke 4 lebaran, temen saya bersama om dan tantenya pergi dari Jakarta menuju Bandung melewati Tol Cipularang pada siang hari…. pada kecepatan 60Km/jm melewati KM 69, 70 tiba-tiba si sopir yg kebetulan omnya sendiri yg membawa kendaraan (mobil panther baru)seperti tidak sadarkan diri dan mengacu kendaraan semakin kencang sehingga kendaraan tersebut tidak stabil lalu membentur trotoar dan terbalik, pada waktu kejadian didalam
mobil tantenya sudah mengingatkan utk memelankan kendaraan namun semakin kencang membawanya sehingga terjadilah kecelakaan tersebut untungnya tidak ada yg terluka parah walaupun mobil tersebut keadaannya rusak berat dan kejadian terjadi di KM 72, kendaraan yg berada dibelakangnya bisa mengerem (mobil honda CRV) kemudian sipengemudi kendaraan tersebut turun dari mobil, nehnya sipengemudi menyalami om temen saya dan berkata “selamat pak untung tidak apa2, saya juga sempat hilang sebentar namun krn melihat kndraan bpk saya kaget dan mengerem”.
Setelah beberapa lama pihak Jasa Marga datang, lalu anehnya lagi ereka berkata “untung bapak di KM 72 kl di KM 68 pasti bapak sudah lewat kl sblumnya ada 2 kecelakan di KM 68 meninggal, memang daerah rawan di 68-72 pak sebaiknya di KM ini lebih berhati-hati dan jgn sampepikiran kosong”, percaya atau tidak dan bukannya menakut2kan tp ini kejadian sungguhan jadi teman2 dr arah Jakartamenuju Bdg melewati Tol Cipularang lebih baik berhati-hati pada KM 68-76.
Mungkin sudah ada yg pernah mendengar cerita ini, bisa memberiinformasi lebih lanjut, terima kasih.

* COMMENT YA KALO ADA CERITA2 TTG HAL2 LAINNYA DI TOL CIPULARANG , NANTI ADMIN UPDATE POST BESERTA NAMA & LINK WEBSITE KALIAN YG TELAH SHARING CERITA2 LAINNYA TTG TOL CIPULARANG *

Friday, September 2, 2011

Panic! At The Disco


Panic! at the Disco is an American alternative rock band, formed in Las Vegas, Nevada in 2005. Since its split, the band's line-up includes Brendon Urie (lead vocals, guitar, piano) and Spencer Smith (drums). Former members Ryan Ross (guitar) and Jon Walker (bass) left the group in 2009. The band has been described by critics as a variety of genres, most commonly pop punk, alternative rock, and baroque pop.
The band formed and recorded their first demos while they were all still in high school. Shortly after, the band recorded and released their debut,A Fever You Can't Sweat Out (2005). Made known by the lead single "I Write Sins, Not Tragedies", the album eventually was certified double platinum and met with much success. The group then wrote and recorded their second record, Pretty. Odd., released in 2008. Marked as a drastic change in tone from their debut, it oversold commercial expectations but met with critical success.
The band released their third album, entitled Vices & Virtues, on March 22, 2011, while the record's first single, "The Ballad of Mona Lisa", was released February 1, 2011.


History :

Formation and early years (2004–2005)

The band was formed in 2004 in the suburban area of Summerlin, Las Vegas, by childhood friends Ryan Ross on vocals and guitar and Spencer Smith on drums. Both teens attended Bishop Gorman High School, and the two began playing music together in ninth grade. They invited friend Brent McDonald from nearby Palo Verde High School to join on bass, and McDonald invited classmate Brendon Urie to try out on guitar. The quartet soon began rehearsing in Smith's grandmother's living room. Urie grew up in a Mormon family in Las Vegas and early on skipped rehearsals to go to church. Ross initially was the lead vocalist for the group, but after hearing Urie sing back-up during rehearsals, they unanimously decided to move him to lead. The teens initially worked solely as a Blink-182 cover band.
The monotonous nature of local Las Vegas bands influenced the members of the band to be different and creative, and they soon began laying down experimental demos. The band had not even performed a single live show when they were signed. "We never went out and played shows before we got signed because the music scene in Las Vegas is so bad. There's not a lot going on," Smith said. "In our practice space, there were something like 30 bands, and every day we'd walk into that room and hear the exact same death-metal bands. So it kind of influenced us to be different. And to get out of Las Vegas." Urie began working at Tropical Smoothie Cafe in Summerlin to afford rent for the band's new practice space. The four left their education behind to concentrate on music, with Ross falling out with his father for leaving college after his first year. Upon telling his parents of their intentions to quit high school in favor of being in a band, Urie was kicked out, forced to stay at friends' homes and eventually affording a one-bedroom apartment.
Ross and Urie soon began to commit to their laptops the demos they had been developing, and posted three early demos ("Time to Dance," "Nails for Breakfast, Tacks for Snacks" and "Camisado") on PureVolume. On a whim, they sent a link to Fall Out Boy bassist Pete Wentz via a LiveJournal account. Wentz, who was in Los Angeles at the time with the rest of Fall Out Boy working on their major-label debut, From Under the Cork Tree, drove down to Las Vegas to meet with the young, unsigned band. Upon hearing "two to three" songs during band practice, Wentz was impressed and immediately wanted the band to sign to his Fueled by Ramen imprint label Decaydance Records, which made them the first on the new label. Around December 2004, the group signed to the label. As news broke that Wentz had signed Panic! (who had yet to perform a single live show), fans on the Internet began to bash the group. "Almost right away we knew what was going to happen," Ross explained in a 2006 interview. "We had two songs online and people were already making assumptions on what kind of band we were and what we were going to sound like."
Meanwhile, Wentz began to hype the band wherever possible: from wearing "Pete! at the Disco" T-shirts onstage to mentioning them in interviews. Wentz gave a quick shout-out to the band during a press junket on the day before the 2005 MTV Video Music Awards: "I've got a couple of bands coming out soon on Decaydance, one being this band called Panic! at the Disco," Wentz said. "Their record is going to be your next favorite record. It's called A Fever You Can't Sweat Out — get it before your little brother does." At the time of their signing, all of the band members were still in high school (with the exception of Ross, who was forced to quit UNLV). Urie graduated in May 2005 and Wilson and Smith finished school online as the band left for College Park, Maryland to record their debut record.

A Fever You Can't Sweat Out and mainstream success (2005–2007)


Former guitarist and lyricist Ryan Ross performing with the band in 2007.
The band relocated to College Park, Maryland to record their debut album from June–September 2005. Although they only had shells of songs when they arrived, the rest of the album shaped up fast through the marathon session. "We didn't have a day off in the five-and-a-half weeks we were there, 12 or 14 hours a day," Ross said in a 2005 interview. "We were making things up in our heads that weren't there, and on top of the stress of trying to finish the record, we were living in a one-bedroom apartment with four people on bunk beds," recalled Ross. "Everyone got on everybody's nerves. Someone would write a new part for a song and someone else would say they didn't like it just because you ate their cereal that morning."
The album is split into two halves: the first half is mostly electronic dance punk, while the second half features Vaudevillian piano, strings, and accordion. The band grew tired of writing only with drum machines and keyboards and, inspired by film scores (specifically the works of Danny Elfman and Jon Brion) decided to write a completely different half. "By the end of that, we were completely exhausted," said Ross of the studio sessions. After its completion, "we had two weeks to come home and learn how to be a band," Ross said. The group played their first live show during the summer of 2005 at local Las Vegas music venue The Alley on West Charleston. Afterwards, the band toured nationally on the Nintendo Fusion Tour with mentors Fall Out Boy, as well as Motion City SoundtrackThe Starting Line, and Boys Night Out for the rest of 2005.
Their debut album, A Fever You Can't Sweat Out, was released September 27, 2005. Sales began relatively slow. It debuted at #112 on the Billboard 200album chart, #6 on the Billboard Independent Albums chart, and #1 on the Billboard Top Heatseekers chart, with nearly 10,000 albums sold in the first week of release. Within a span of four months, Panic! would see the video for their first single, "I Write Sins Not Tragedies", rocket up the Billboard Hot 100 as sales of Fever passed the 500,000 mark. At the end of March 2006, they announced their very own headlining tour. By August, their debut record was certified platinum by the Recording Industry Association of America, and the music video for "I Write Sins, Not Tragedies" won Video of the Year at the 2006 MTV Video Music Awards. "Some aspects of the fame are annoying, but at the end of the day it's something we're most grateful for. It's certainly opened the door to a whole new batch of opportunities," Ross said of the band's newfound fame and instant success.
In May 2006, Panic! at the Disco announced that original bassist Brent Wilson had left the band, "posting a statement that was both diplomatic and entirely inscrutable […] yet [failing] to mention any reason why Wilson is leaving Panic," according to MTV News. In June, Wilson asserted to MTV News that he was kicked out of the band via a phone call. "It was done as a phone call and the only person who spoke was Spencer. Apparently Brendon and Ryan were on the speakerphone too, but they didn't say a word. They never even said they were sorry," explained Wilson. Smith wrote a lengthy e-mail back to James Montgomery of MTV News, stating, in part, "We made the decision based on Brent's lack of responsibility and the fact that he wasn't progressing musically with the band," and revealed that Wilson did not write nor play any bass present onFever: Instead, Urie recorded these parts. Wilson demanded a cut in royalties, and threatened to take his former band to court.
The band supported The Academy Is… on their worldwide The Ambitious Ones and Smoking Guns Tour from January to May 2006. Beginning in June, the group headlined their first unnamed national tour, that would last until August. During their performance at the 2006 Reading Festival in August, the band was greeted by excessive bottling, one of which hit Urie in the face that knocked him unconscious. Despite this, the band continued with their set after Urie recovered. The band's second headlining tour, dubbed the Nothing Rhymes with Circus Tour, began in November. In roughly one year, Panic! at the Disco went from being the opening act on a five-band bill to the headliners on a massive arena tour.
The Nothing Rhymes with Circus Tour debuted the band's highly theatrical and notable live show, which featured every song with dance numbers, skits and tricks performed by a six-member troupe, as the band donned intricate costumes, loosely re-enacting moments from the songs. Kelefa Sanneh of The New York Times noted the sudden success and circus-inspired tour of the young band in a concert review: "There’s something charming about watching a band trying to navigate sudden success, aided by a contortionist, a ribbon dancer and all the rest of it." The group, fresh off the major success of A Fever You Can't Sweat Out, took a break after non-stop touring and began formulating ideas for their next record together during the winter of 2006.

Pretty. Odd....Live In Chicago, and continued success (2008)


Urie and Ross performing in support ofPretty. Odd. in Houston, Texas, April 2008.
After a short period of development regarding the ideas of the album, on March 6, 2007 the band arrived at a cabin in the rural mountains of Mount Charleston, Nevada and began the writing process for the new album. After recording the new tracks and performing them live over the summer, the band returned to their native Las Vegas as well as their old rehearsal studio, where they wrote their debut record. The band grew disinterested in the songs previously written and by August scrapped the entire new album (which Ross later revealed was "three-quarters" done) and started over. "We wanted to approach these songs in the most basic form," Ross said. "We wrote them all on one acoustic guitar and with someone singing. I think that we kind of skipped that part of songwriting on the first record, and this time we're sort of paying attention to that. […] We've written a bunch of songs since we've been home [Las Vegas]. I think it's the most fun and the happiest we've been since we started." With simplicity the new focus and the old album shelved, the group settled in and began recording what would become Pretty. Odd. In October, the band entered the Studio at the Palms at the Palms Casino Resort in Las Vegas to begin recording the album.
In January 2008, the band unveiled a new logo and dropped the exclamation point from their name, effectively becoming Panic at the Disco, which soon caused outrage among the band's fanbase. Released on March 21, 2008, Pretty. Odd. was described by the band as "more organic and mellower" than A Fever You Can't Sweat Out, as well as unintentionally and coincidentally similar to music of The Beatles, in both songwriting and scope. The record debuted at number two on the US Billboard 200 chart, with first-day sales of 54,000, and first-week sales of 139,000 copies in the United States. Those figures marked the band's biggest sales week to that date, beating a previous record held by A Fever You Can't Sweat Out (which sold 45,000 during the winter of 2006). The record also debuted at "Current Alternative Albums" chart and #2 on the "Digital Albums" chart, the latter of which accounted for 26 percent of the disc's overall sales. The album charted high in various other countries and was eventually certified gold in the United Kingdom, however,Pretty. Odd. received relatively disappointing sales in the face of its' predecessor. Pretty. Odd. was, however, critically acclaimed in contrast to Fever: Barry Walters of Spin called Panic's debut album "embarrassing" while regarding the new record as "[daring] to be optimistically beautiful at a time when sadness and ugliness might have won them easier credibility."
The band announced plans to headline the 2008 Honda Civic Tour in January 2008, which took up the majority of early touring for the album. Motion City Soundtrack, The Hush Sound and Phantom Planet opened for the tour, which April 10 to July 14, 2008 across North America. Throughout October and November 2008, the band toured with Dashboard Confessional and The Cab on the Rock Band Live Tour promoting the video game Rock Band 2.
As expected and predicted by several music publications, the band adopted a very different style for the touring in support of Pretty. Odd., in contrast to the dark, circus-themed elements of their previous stage shows. Each show contained "woodsy set pieces, projections of flora and fauna, and mic stands wrapped in lights and flowers," and each band member dressed in a vest. While reflecting on the theatrical nature of A Fever You Can't Sweat Out touring, Urie commented "We did it and it was a lot of fun when we did it, but this time around I think we wanted to get back to a more intimate, personal setting, and scale it down a little bit." Ryan Ross explained that "It's more about connecting with the audience and seeing what's gonna happen every night. It's not as scripted out and pre-planned. It makes it more exciting for us, and less monotonous every night." A live album, ...Live in Chicago, based on live recordings from Chicago during the Honda Civic Tour, was released December 2, 2008. An accompanying DVD contains photos from the tour, each music video from the album as well as behind-the-scenes footage of the videos and the tour, the short filmPanic at the Disco In: American Valley, and the documentary feature based on the tour, All In A Day's.
Pretty. Odd.'s touring was also defined by a larger effort to remain environmentally conscious. On the tour, the band worked with two non-profit eco organizations: Reverb, which facilitates environmentally friendly touring; and Global Inheritance, which seeks to inspire more eco-activism. In a 2008 interview, Ross revealed that the band traveling on a biodiesel bus, to re-using plastics, and recycling more backstage. The band went as far as to print tour booklets on recycled paper, with soy ink, and organize an "eco-contest," in which profits from the tour went straight to environmental organizations.

Lineup change and Vices & Virtues (2009–present)


P!ATD performing at the first show of theVices & Virtues Tour in New York City, February 1, 2011.
In spring 2009, the band began recording material for their then-untitled third studio album. However, on July 6, 2009, Ryan Ross and Jon Walker announced via the band's official website that the two were leaving the band. The statement, in part, read: "Ryan Ross and Jon Walker will be leaving Panic at the Disco to embark on a musical excursion of their own. Though the four of us have made music together in the past, we've creatively evolved in different directions which has compromised what each of us want to personally achieve. Over the years, we have remained close and honest with each other, which helped us to realize that our goals were different and that parting ways is truly what is best for each of us." In an interview following the split, Ross explained that he first brought the idea to Smith in late June 2009 over lunch: "Spencer and I had lunch and caught up for a while, and then the big question came up, like, 'Well, what do you want to do?' and I said, 'Well, I think it might be best if we kind of do our own thing for a while', and he said, 'I'm glad you said that, because I was going to say the same thing'", Ross recalled. "And there was really no argument, which is really the best way that could've worked out." Ross said the split was largely due to creative differences between him and Urie. Urie wanted the band to explore a more polished pop sound, while Ross — and, by extension, Walker — was interested in making retro-inspired rock.
The news asserted that both tour plans with Blink-182 in August 2009 and new album production "will continue as previously announced," and the announcement ended with the teaser for a "surprise" soon to come. The following day, Alternative Press broke the news that "New Perspective", the first song recorded without Ross and Walker, would debut the following month on radio and as a part of the soundtrack to the film Jennifer's Body. On July 10, 2009, Alternative Press also reported that the band had regained the exclamation point, becoming, once again, Panic! at the Disco. "New Perspective" was released on July 28, 2009. Former The Cab member Ian Crawford filled in for Ross on their tour during the Blink-182 Summer Tour in August 2009, and Dallon Weekes, singer/songwriter of the indie band The Brobecks, filled in for Walker on bass.
The band re-entered the studio during early 2010 and spent much of the year recording their third studio album. On January 18, 2011, the band revealed that their new album, Vices & Virtues, would officially be released on March 22, 2011. The album was produced by Butch Walker and John Feldmann. The record's first single, "The Ballad of Mona Lisa", was released digitally on February 1, 2011, with the music video being released February 8, 2011. Vices & Virtues was officially released March 22, 2011 to relatively positive critical reviews.
The band began touring in support of the album, christened the Vices & Virtues Tour, in earnest beginning in February 2011. The tour has sported the same electric, over-the-top theatricality the band was known for during the Fever era. "I really miss wearing costumes and makeup," Urie told Spin. "I love throwing a big production. I've recently been reading about Tesla coils and I'm trying to figure out how I can get one that sits on the stage and shoots sparks without hurting anybody."
On May 12, 2011, the band collaborated with indie pop band Fun., releasing a new single named "C'mon".




Panic! at the Disco

Panic! performing in 2006
Background information
Also known asPanic at the Disco, PATD, P!ATD, P@TD, Panic!
OriginLas Vegas, Nevada, United States
GenresPop punk, alternative rock, emo , emo pop
Years active2004–present
LabelsDecaydance/Fueled by Ramen
Atlantic Records
Associated actsThe Young Veins
Fall Out Boy
WebsitePanicAtTheDisco.com
Members
Spencer Smith
Brendon Urie
Past members
Brent Wilson
Ryan Ross
Jon Walker